Selamat Datang di Website Resmi MTsN 3 Kota Jambi # Beli Pinang di Tepi Muara. Pinang Dibelah untuk Bersirih. Website MTsN 3 Kota Jambi Terbuka untuk Semua. Datang Bertamu, Jangan Sungkan Singgah Lagi! # MTsN 3 Kota Jambi - Madrasah Siaga Kependudukan - Madrasah Adiwiyata - Madrasah Ramah Anak - Madrasah Terbaik Pengutamaan Bahasa Negara 2025.
Diposting Pada: Jumat, 29 Agustus 2025

Siniar Masanta Hadirkan Kasubdit Kurev KSKK Madrasah . Begini Dialog Filosofis tentang Kurikulum Berbasis Cinta!

Siniar Masanta Hadirkan Kasubdit Kurev KSKK Madrasah . Begini Dialog Filosofis tentang Kurikulum Berbasis Cinta!

Kota Jambi - Kamis (28/8/2025), tepatnya pukul 11.00 WIB, Studio Masanta Digital Media (MDM) MTs N 3 Kota Jambi menjadi tempat berlangsungnya sebuah dialog pendidikan yang sarat makna. Dr. H. Abdul Basit, S.Ag., M.M., Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi Direktorat KSKK Kementerian Agama RI, hadir sebagai narasumber dalam program Siniar Masanta yang dipandu oleh Rini Febriani Hauri, guru Bahasa Indonesia MTs N 3 Kota Jambi. Mereka berbincang mengenai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Meski baru saja mendarat di Jambi, Dr. Abdul Basit langsung menuju MTs Negeri 3 Kota Jambi untuk menghadiri podcast ini. Suasana studio terasa hangat namun penuh keseriusan. Sementara itu, cameramen dan tim editor video (Medi Saputra, Aderian Kurniawan, dan Dede Riko Saputra) sudah sigap di belakang layar, menyiapkan peralatan kamera, pencahayaan, hingga audio untuk memastikan jalannya rekaman berjalan mulus.

Rini membuka percakapan dengan sapaan ramah, lalu melemparkan pertanyaan yang langsung menukik: Dari mana konsep cinta ini lahir? Apakah terinspirasi dari filsuf Barat, filsuf Timur, ataukah dari tradisi Islam sendiri? Dan bagaimana kaitannya dengan mahabbah Rabiah al-Adawiyah serta cinta kosmik ala Jalaluddin Rumi?

Pertanyaan itu mengantarkan diskusi ke inti. Dr. Abdul Basit menjelaskan bahwa fondasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) adalah Al-Quran. Menurutnya, cinta adalah pesan utama wahyu: cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta sesama, cinta lingkungan, dan cinta tanah air. Semua dimensi itu terangkum dalam KBC sebagai nilai yang harus dihidupkan di madrasah dan lembaga pendidikan.

Dasarnya jelas, yaitu Al-Quran. Cinta bukan sekadar kata indah, melainkan energi pembebas. KBC hadir untuk memadukan pesan ilahi dengan kebutuhan zaman. Dengan cinta, pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter yang empatik dan manusiawi, ungkapnya.

Diskusi kemudian melebar ke filsafat pendidikan modern. Rini mengaitkan KBC dengan gagasan Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil yang dalam pandangannya bahwa pendidikan adalah tindakan cinta sekaligus keberanian. Dr. Basit menilai ada keselarasan di sana. Jika Freire menolak dehumanisasi pendidikan yang hanya menempatkan murid sebagai angka dan objek maka KBC melengkapinya dengan dimensi spiritual. Cinta bukan sekadar metode, tapi ruh dari pendidikan itu sendiri, tegasnya.

Obrolan semakin kaya saat Rini menyinggung warisan sufistik. Rabiah al-Adawiyah, sufi perempuan abad ke-8, dikenal dengan konsep mahabbah—cinta murni kepada Allah tanpa pamrih. Sementara Jalaluddin Rumi menggambarkan cinta sebagai energi kosmik yang menghubungkan manusia, alam, dan Tuhan. Menurut Dr. Basit, gagasan para sufi itu sangat relevan dengan semangat KBC. Kurikulum ini mengajarkan murid untuk mencintai Tuhannya, dirinya, sesamanya, hingga tanah airnya. Dengan cinta, manusia kembali utuh, katanya.

Lebih lanjut, Dr. Basit menegaskan bahwa KBC juga merupakan jawaban atas intoleransi. Pendidikan berbasis cinta akan melahirkan generasi yang terbuka, menghargai perbedaan, dan mampu hidup damai dalam keberagaman.

KBC bukan hanya untuk madrasah, tetapi juga akan diterapkan di perguruan tinggi. Bahkan teman-teman dari agama Hindu sudah bersiap untuk mengimplementasikannya dengan pendekatan mereka sendiri. Jadi ini gerakan lintas agama, bukan sekadar program sektoral, jelasnya.

Selama hampir satu jam, obrolan berlangsung cair namun berbobot. Rini beberapa kali mengajukan pertanyaan kritis, sementara Dr. Basit menjawab dengan penuh ketenangan. Dari definisi dasar KBC, pola 5-5-5 (lima tujuan, lima nilai cinta, lima lingkungan belajar), hingga praktik penerapannya di kelas dan budaya sekolah, semua dikupas tuntas.

Obrolan ditutup dengan harapan besar bahwa dengan implementasi KBC, pendidikan Indonesia diharapkan melahirkan generasi yang cerdas sekaligus bijaksana, berilmu sekaligus berakhlak, kompetitif sekaligus penuh cinta.

Program Siniar Masanta yang menghadirkan Dr. Abdul Basit ini akan segera tayang di kanal YouTube MTs N 3 Kota Jambi, yang Bernama Masanta Digital Media, agar publik lebih luas dapat menyimak dialog filosofis seputar Kurikulum Berbasis Cinta ini.
Setelah podcast berakhir, Dr. Basit melanjutkan agendanya di MTs Negeri 3 Kota Jambi. Di hadapan para guru, ia memberikan pengarahan khusus tentang implementasi KBC.

Penulis : Anita Safitri, S.Pd.
Editor : Rini Febriani Hauri

 


8526x
Dibaca
.

Berita Lainnya:

  1. **BAZAR DAN EXPO KSM Provinsi Jambi* 328x dibaca
  2. PELATIHAN RIAS PENGANTIN DW. KEMENTERIAN AGAMA KOTA JAMBI, DW MTsN 3 KOTA JAMBI PELASKANANYA 328x dibaca
  3. Kepala MTsN 3 Kota Jambi menerima kunjungan dari BPOM Jambi 517x dibaca
  4. PEMBERIAN HASIL EVALUASI SISWA PENILAIAN AKHIR TAHUN (PAT) TP. 2022/2023 390x dibaca
  5. Jum'at Berkah dengan Senam Siginjai seluruh Keluarga MTsN 3 Kota Jambi 518x dibaca

Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Lokasi MTsN 3 Kota Jambi

Mars Madrasah