
Kota Jambi , Gelombang demonstrasi sejak akhir Agustus 2025 di berbagai daerah Indonesia menorehkan catatan kelam. Aksi yang awalnya penyampaian aspirasi rakyat berubah menjadi vandalisme dan penjarahan, bahkan menyasar rumah sejumlah tokoh nasional seperti Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Kediaman Ketua DPR RI Puan Maharani pun sempat dikepung massa sebelum diamankan aparat.
Situasi serupa terjadi di Jambi. Gedung DPRD Provinsi Jambi rusak akibat lemparan massa, sementara rumah dinas gubernur dan wakil gubernur ikut mendapat tekanan meski berhasil dijaga aparat. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana aksi politik dapat bergeser menjadi destruktif bila tidak diiringi etika dan kendali emosi dalam berdemokrasi.
Generasi muda harus memahami bahwa demokrasi bukan soal amarah, melainkan soal dialog. Kalau aspirasi disampaikan dengan cara yang santun, itulah wajah demokrasi yang sebenarnya,kata Kepala MTs Negeri 3 Kota Jambi, Risatri Gusmahansyah, S.Pd., M.Si.
Madrasah punya tanggung jawab besar untuk membentuk karakter siswa. Mereka harus belajar bahwa perbedaan pendapat bisa disalurkan lewat jalur damai, bukan dengan kekerasan atau perusakan, tambahnya.
Risatri menilai peristiwa ini penting dijadikan refleksi, khususnya bagi generasi muda yang sedang tumbuh dalam ekosistem digital penuh arus informasi.
Demo itu bagian dari demokrasi, sah dan boleh dilakukan. Tetapi kalau sampai merusak, menjarah, apalagi melakukan kekerasan, itu jelas melenceng dari nilai demokrasi yang sebenarnya, ujarnya pada Senin (1/9/25).
Ia menekankan bahwa pendidikan karakter di sekolah harus memberi pemahaman pada siswa bagaimana cara menyampaikan aspirasi dengan santun, kritis, dan bertanggung jawab.
Anak-anak harus belajar dari kasus ini, bahwa perubahan tidak datang dari amarah dan kekerasan, melainkan dari sikap kritis, dialog, dan solusi damai. Itulah nilai yang kita tanamkan di madrasah, tambahnya.
Selain itu, ia juga berpesan agar siswa tidak mudah terpancing oleh informasi yang berseliweran di media sosial.
Saya mengimbau anak-anak madrasah untuk tidak terbawa amarah rakyat. Kendalikan emosi dan bijaklah menyikapi berita di media sosial, apalagi jika belum jelas asal-usul dan kebenarannya. Lebih baik tetap belajar, jangan main di luar dulu, dan fokus menjaga suasana madrasah agar kondusif! tegasnya.
Tak hanya kepada siswa, ia juga mengingatkan para orang tua agar ikut berperan aktif.
Kami mengimbau orang tua untuk mendampingi anak-anak mereka. Jangan sampai anak ikut-ikutan terlibat dalam vandalisme. Peran keluarga sangat penting agar anak tetap fokus pada pendidikan dan tumbuh sebagai generasi yang berilmu dan berakhlak, jelasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa generasi muda Indonesia mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kedamaian.
Tugas siswa hari ini bukan ikut-ikutan anarkis, tapi menyiapkan diri menjadi generasi yang siap memimpin Indonesia dengan cara yang bermartabat, pungkasnya.
Peristiwa demonstrasi disertai anarkisme dan vandalisme menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak boleh lepas dari etika, moral, dan tanggung jawab. Dalam konteks ini, dunia pendidikan kembali menegaskan perannya sebagai benteng utama dalam membentuk generasi muda yang kritis, damai, dan berkarakter, sekaligus siap menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika zaman.
Penulis : Rini Febriani Hauri
editor : Rini Febriani Hauri
|
976x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...