
Kota Jambi - Pagi itu akhir Juli 2025, halaman MTsN 3 Kota Jambi masih basah oleh embun ketika Rini Febriani melangkah masuk ke ruang guru. Tidak ada yang mengetahui bahwa jantungnya sedang berdegup lebih cepat dari biasanya. Dengan tangan yang bergetar ia membuka ponsel, menunggu hasil seleksi yang telah ia perjuangkan selama berbulan-bulan. Saat nama itu muncul di layar, dunia seakan berhenti. Rini Febriani dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) LPDP Kemenag RI.
Reaksinya sederhana. Sujud syukur dan bersalawat. Tidak ada pesta besar. Tidak ada foto publik. Hanya keheningan yang penuh makna dan rencana baru yang disusun lebih rapi. Air matanya jatuh bahkan sebelum ia sempat membaca baris berikutnya. Dari 13.624 pendaftar, hanya 1.028 yang berhasil lolos. Dari kuota 110 untuk S2 dalam negeri, satu tempat yang kini menjadi miliknya.
Perjalanan menuju kabar itu tidaklah singkat. Sejak Maret hingga Juli 2025, hidup Rini berputar di antara tumpukan tugas mengajar, strategi seleksi beasiswa, dan disiplin belajar yang ia bentuk dari nol. Bulan Ramadan ia gunakan untuk mempersiapkan TOEFL. Sepulang mengajar, ia menulis dan merevisi esai berkali-kali hingga larut malam, mempelajari materi wawancara, dan melatih kemampuan akademik serta personal branding yang menjadi kunci utama. Ketika banyak pelamar memilih mock interview publik, Rini memilih latihan privat berdialog online, menyusun argumen, dan mempertajam visi penelitiannya melalui sesi latihan intensif dengan ChatGPT.
"Saya pemalu. Latihannya berdua saja sama ChatGPT. Tapi sangat membantu saya mengolah pikiran agar runtut dan mampu menjawab dengan percaya diri," ujarnya tersenyum.
Setelah dinyatakan lulus BIB LPDP Kemenag RI, perjuangan belum selesai. Ia kembali menyiapkan diri untuk Ujian TPA Bappenas sebagai syarat masuk pascasarjana di UGM, membaca materi logika dan analitik hingga dini hari. Pada 19 November 2025, kabar kedua menghampiri. Ia resmi diterima di Program Magister Sastra UGM. Dua keberhasilan itu melengkapi perjalanan panjang yang sebelumnya penuh luka dan jeda. Rini akan memulai perkuliahan pada awal Februari 2026.
Beasiswa itu menanggung hampir seluruh kebutuhan, seperti biaya kuliah, biaya hidup, transportasi, buku, dana penelitian, kesehatan, hingga dana darurat. Baginya, ini bukan sekadar fasilitas pendidikan, tetapi pintu menuju mimpi yang pernah terkubur, lalu perlahan bangkit kembali.
Di tengah tekanan belajar, suara ujian, dan gelombang ketakutan gagal, sebuah pengalaman batin hadir seperti pelipur hati. Mei 2025, ia mimpi bertemu Nabi Muhammad saw. Bukan sebagai pertanda kemenangan, tapi sebagai penguat hati.
"Saya merasa diingatkan bahwa belajar harus kembali pada niat yang tulus, mengabdi, membawa manfaat," tuturnya pelan.
Mimpi itu menyatu dengan minat risetnya pada sastra profetik, terutama terkait kisah Isra Mi'raj dan pesan QS Ali Imran ayat 110 mengenai tugas umat manusia, yakni mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Itulah fondasi tesis yang kelak ingin ia teliti, bagaimana sastra dapat menjadi ruang dakwah kemanusiaan, medium yang membimbing, bukan sekadar menghibur.
Rini paham betul bagaimana rasanya gagal. Pada 2015 ia mengincar beasiswa ke Eropa dan kandas. Setahun kemudian, ia mencoba lagi dan kembali pulang membawa kekecewaan. Dua kali kegagalan membuatnya lebih rendah diri.
Namun ia menyimpan mimpinya, memperdalam pengalaman mengajar, menulis, dan kemudian menjadi ASN Kementerian Agama. Kondisi yang mengubah orientasi bacaan bukunya dari sastra Barat menuju khazanah sastra Arab, seperti Adonis, Nizar Qabbani, Mahmud Darwish, dan estetika spiritual Timur Tengah.
Kegagalan-kegagalan itu ternyata bukan titik akhir, tetapi pondasi keyakinan untuk bangkit di 2025. Ia menata ulang strateginya. Lebih realistis, lebih matang, dan lebih terarah. Rini percaya usaha teknis harus berjalan seiring usaha batin. Doa menjadi jalur langit yang ia upayakan setiap hari, disertai dukungan kolektif dari keluarga, sahabat, komunitas, dan murid-murid yang mendoakannya setiap selesai salat zuhur. Ia bahkan meminta doa dari anak kecil di jalan dan orang asing yang ditemuinya.
"Saya percaya kekuatan doa banyak orang," ucapnya. Ia selalu meminta hal yang sama. Bukan meminta "lolos beasiswa", tapi dimudahkan dalam proses. Rini pun memberi pesan sederhana. "Jangan takut mencoba. Mimpi bisa kita simpan bertahun-tahun, tapi suatu saat harus kita kejar lagi. Kalau gagal, bukan berarti selesai. Kadang Allah menunda, bukan menolak."
Beberapa jam setelah pengumuman, Rini duduk di balkon rumah, memandang lalu lintas Jambi yang sibuk. Anak sekolah berangkat, pedagang menata dagangan, motor berjejal di lampu merah. Dunia luar tampak biasa saja, tetapi di dadanya tumbuh dunia baru yang lebih luas, ruang kuliah, buku-buku penelitian, tesis yang menunggu dituliskan, dan wajah murid-murid yang suatu hari akan ia temui lagi dengan pandangan yang lebih terang.
Kisahnya mengingatkan bahwa keberhasilan tidak pernah turun seketika. Ia tumbuh dari kegagalan, doa, dan konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari. Karena pada akhirnya, mimpi yang paling kuat adalah mimpi yang diperjuangkan dengan hati.
Penulis : Anita Safitri, S.Pd
Editor : Rini Febriani Hauri
|
1449x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...