
Kota Jambi – Ruang Film Jambi adakan acara Screening Film “Tanoh Peranaon†di Teater Arena Taman Budaya Jambi pada Minggu (19/01/25) pada pukul 20.00 WIB s.d. selesai. Pemutaran perdana film ini dihadiri oleh penonton dari berbagai kalangan. Film yang berdurasi delapan puluh menit ini didanai oleh dana Indonesiana Kemdikbudristekdikti 2023.
Film “Tanah Peranaon†mengabadikan dedikasi Alm. Yusak Adrian Hutapea dalam merintis Pendidikan Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas. Film yang terinspirasi dari buku biografi berjudul “Yusak Adrian Hutapea, Pahlawan Pendidikan Orang Rimba†ini buah karya Herma Yulis dan Sukmareni, terbitan KKI Warsi pada tahun 2013. Mengisahkan tentang perjuangan Yusak dalam memperkenalkan literasi baca-tulis-hitung. Namun perjalanan Yusak tidaklah mudah, ia mendapatkan penolakan berkali-kali oleh pemimpin Orang Rimba karena mereka khawatir bahwa pendidikan dapat merusak adat-istiadat Orang Rimba.

Film bergenre drama ini merupakan film panjang pertama produksi anak Jambi, yang melibatkan akademisi, seniman, siswa, mahasiswa, guru, aktor/aktris teater, dan berkolaborasi dengan belasan komunitas di Provinsi Jambi. Penulis skenario (naskah film) ada tiga, yakni Suhardianto (Guru SMP N 7 Kota Jambi/Videografer), Ichsan Satria Irianto (Dosen Unja), dan Rini Febriani Hauri (Guru MTs N 3 Kota Jambi).
Rini – Guru Bahasa Indonesia MTs N 3 Kota Jambi – mengaku senang dirinya bisa menjadi bagian kecil dalam penulisan naskah film ini. Dirinya mengaku awalnya tidak yakin mampu menuliskan naskah film ini tepat waktu, karena pada saat bersamaan di tahun 2024 lalu, jadwalnya sangat padat. Selain mengajar dan mengasuh beberapa medsos madrasah, Rini juga dikejar deadline mengeditori buku dan tengah juga menulis soal literasi AKMI (Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia) Kementerian Agama RI.

“Suhardianto datang ke sekolah, mengajak saya berkolaborasi. Ia meyakinkan saya bahwa saya mampu. Meski harus bergadang, saya senang turut andil dalam bagian ini. Dahulu saat riset ke Taman Nasional Bukit Duabelas, saya sedih saat melihat penebang kayu illegal menebang pohon-pohon. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menulis. Melalui film ini semoga menjadi penyadaran bagi kita bersama agar kita dapat hidup berdampingan dengan alam. Sebab hutan adalah rumah bagi Orang Rimba dan pohon-pohon sudah dianggap sebagai saudara kandung,†ungkap Rini.
Rini sendiri sudah menulis lima buku tentang Orang Rimba, diantaranya buku nonfiksi hasil kerja sama dengan Pundi Sumatera berjudul “Bececakop†(Pundi Sumatera, 2018), buku cerita “Rumah Baru Besudut†(Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, 2019), “Berpetualang ke Bukit Duabelas†(Penerbit JBS, 2019), Buku Puisi “Nipah Panjang†(Basabasi, 2019) yang masuk nominasi buku puisi terbaik dalam Sayembara Hari Puisi Indonesia 2020, dan Dongeng-Dongeng Orang Rimba (Syakaa Group, 2020).
Screening film “Tanoh Peranaon†adalah kegiatan nonton bareng, yang tak hanya nonton bareng saja. Usai pemutaran film, diadakan diskusi antara penonton dan Ruang Film Jambi tentang proses produksi dan distribusi film. Dengan adanya Screening Film ini, penonton bisa menyerap hasil yang telah ditonton, juga bisa bertukar informasi, menjalin kerja sama, dan menciptakan hasil karya dari nonton bersama.

Eri Ergawan, Kepala TBJ (Taman Budaya Jambi), sekaligus aktor film “Tanah Peranaon†mengatakan bawa ia menyambut hangat dengan hadirnya film panjang hasil kolaborasi karya anak Jambi. Ini sebuah langkah awal yang baik untuk masa depan film Jambi. Siapa pun komunitas film di Jambi yang ingin melakukan pemutaran film, TBJ sangat welcome.
Selanjutnya, Anton Oktavianto, Pelaku Film Jambi, berharap agar film “Tanah Peranaon†mampu bersaing di luar Jambi, hingga menembus ranah nasional maupun internasional, sebab film yang baik adalah film yang bisa diapresiasi dan dikritisi.
Penulis : Anita Safitri
Editor : Rini Febriani Hauri
|
9685x
Dibaca |
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...