Selamat Datang di Website Resmi MTsN 3 Kota Jambi # Beli Pinang di Tepi Muara. Pinang Dibelah untuk Bersirih. Website MTsN 3 Kota Jambi Terbuka untuk Semua. Datang Bertamu, Jangan Sungkan Singgah Lagi! # MTsN 3 Kota Jambi - Madrasah Siaga Kependudukan - Madrasah Adiwiyata - Madrasah Ramah Anak - Madrasah Terbaik Pengutamaan Bahasa Negara 2025.
Diposting Pada: Sabtu, 09 Agustus 2025

CAHAYA: Juara 2 KFPI 2024 yang Memadamkan Gelap dan Menyalakan Hati

CAHAYA: Juara 2 KFPI 2024 yang Memadamkan Gelap dan Menyalakan Hati

Sejak menit pertama, film CAHAYA produksi Masanta Digital Media (MDM) MTs N 3 Kota Jambi, sudah menata nadanya seperti seorang pengajar yang memahami betul arti diam dan jeda. Kamera tidak terburu-buru; ia bergerak dengan kelembutan, seperti seseorang yang menuntun anak kecil menyeberang jalan—penuh kehati-hatian, memberi ruang bagi setiap langkah untuk menemukan maknanya sendiri. Kita dibawa kembali ke madrasah, bukan sekadar sebagai latar, melainkan sebagai ruang yang menyimpan denyut masa lalu.

Di sinilah Lisa, tokoh utama, kembali berdiri setelah sekian lama. Ia kini seorang dokter—profesi yang dalam banyak cerita sering menjadi simbol keberhasilan—namun di hadapan bangunan tua itu, ia kembali menjadi murid yang pernah duduk di bangku kayu, menatap papan tulis yang penuh coretan, dan mendengar suara azan yang menggema di antara dinding yang menguning dimakan waktu.

Perjalanannya di dalam madrasah itu seperti membuka album kenangan yang tidak pernah benar-benar ditutup. Ada momen ketika ia teringat rasa sakit—perundungan yang membekas di hati dan tatapan meremehkan yang pernah menusuk. Ada pula momen hangat—tawa bersama kawan sebangku, rasa lega saat menghafal pelajaran dengan lancar, dan cahaya sore yang jatuh di halaman tempat mereka bermain. Semua hadir tanpa efek dramatisasi berlebihan. CAHAYA justru memeluk kesederhanaan itu, membuatnya menjadi kekuatan.

Lisa tidak hanya berjalan di koridor madrasah, ia berjalan di dalam dirinya sendiri. Setiap langkah menyentuh lantai berdebu adalah langkah menuju penerimaan. Setiap cahaya yang menyelinap lewat jendela adalah pengingat bahwa luka dan hangat sering berbagi ruang yang sama. Dan di sinilah film ini menemukan inti emosinya, bahwa pulang bukan hanya tentang kembali ke tempat lama, tetapi juga tentang memberi ruang bagi masa lalu untuk duduk di meja yang sama dengan kita hari ini.
*
Setiap detik film seolah dirangkai dengan doa, setiap adegan adalah ziarah kecil pada masa lalu. CAHAYA tidak menggurui; ia memilih untuk menyentuh lewat diam, lewat tatapan, lewat langkah yang tak terburu. Inilah film yang, meski hanya berdurasi singkat, menyalakan sesuatu yang jauh lebih lama dalam hati penontonnya. Dan mungkin itulah sebabnya ia layak menyandang gelar Juara 2 Kompetisi Film Pendek Islami (KFPI) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi 2024—bukan hanya karena teknik atau cerita, tetapi karena keberaniannya merayakan yang sederhana, yang nyaris terlupakan, dan yang paling manusiawi.

Film ini bermain di dua lapisan sekaligus. Di permukaan, ia bercerita tentang manusia yang memilih untuk tetap berbuat baik meski tak selalu disambut baik. Di bawahnya, ia mengajak kita merenungkan sesuatu yang lebih halus: bahwa cahaya adalah cara Tuhan berbicara kepada manusia yang mau mendengar. Kadang ia datang dari mata seorang ibu yang mengucapkan terima kasih, kadang dari senyum samar anak kecil, kadang dari sinar sore yang jatuh tepat di telapak tangan. Tidak ada narasi verbal yang mendikte penonton, tapi setiap gambar seakan berbisik, “Perhatikan. Ini bukan kebetulan!”

Sinematografinya sederhana, namun tepat sasaran. Tidak ada permainan kamera berlebihan, tidak ada potongan cepat yang mengalihkan perhatian. Justru lewat ritme lambat dan shot yang memberi waktu, kita diundang untuk betul-betul melihat: tekstur tanah, kilau sinar di permukaan air, debu yang berterbangan di udara sore. Elemen-elemen kecil ini bukan sekadar hiasan visual; mereka menjadi bahasa diam film ini. Dalam hening itu, pesan moral film terasa lebih meresap.

Yang menarik, CAHAYA tidak jatuh pada perangkap dramatisasi yang sering terjadi di film bertema moral. Tidak ada tangisan berlebihan, tidak ada dialog yang dibuat-buat untuk menguras air mata. Segala emosi hadir dalam ukuran yang pas—cukup untuk menggetarkan, tapi tidak sampai menenggelamkan. Penonton dibiarkan menemukan kesedihan atau kehangatan dengan caranya sendiri. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap kecerdasan emosional penonton yang jarang kita temui, apalagi dalam durasi sependek ini.
*
Namun, tidak berarti film ini tanpa kekurangan. Dalam beberapa momen, pacing yang lambat berisiko kehilangan perhatian penonton yang terbiasa dengan sajian cepat. Beberapa transisi antaradegan terasa sedikit kaku, seolah sutradara ragu kapan harus berpindah. Tetapi kekakuan ini justru, pada titik tertentu, memberi kesan mentah yang tulus—seperti melihat seseorang bercerita tanpa naskah, hanya dengan hati.

Nilai terbesar dari CAHAYA adalah kemampuannya memadatkan pengalaman batin yang kompleks ke dalam durasi delapan menit tanpa terasa terburu-buru. Film ini tidak hanya memotret perbuatan baik, tetapi juga atmosfer yang mengelilinginya: keheningan setelah membantu orang lain, senyum yang muncul tanpa disadari, bahkan rasa lelah yang tetap hangat karena kita tahu mengapa kita melakukannya. Semua itu dibalut dengan cahaya—kadang lembut, kadang tegas, kadang hampir tak terlihat, tapi selalu ada.

Ketika penutup bergulir, kita mungkin tidak langsung bangkit dari tempat duduk. Ada jeda kecil, seperti jeda antara tarikan napas dan hembusan. Dan di jeda itu, kita sadar bahwa film ini sudah memindahkan sesuatu di dalam diri kita. Ia mengingatkan bahwa cahaya bukan hanya milik matahari, lampu, atau kamera. Cahaya adalah keputusan yang kita ambil setiap hari—untuk tetap sabar ketika mudah marah, untuk ikhlas ketika sulit menerima, untuk berbuat baik meski tidak ada yang menyaksikan.

Keindahan CAHAYA terletak pada kemampuannya memadatkan nilai-nilai hidup dalam durasi yang singkat. Delapan menit yang dijahit rapi ini bukan sekadar tontonan, melainkan peringatan halus bahwa kita semua hidup di bawah cahaya yang sama, hanya saja kadang lupa untuk saling menyinari. Dan ketika layar akhirnya gelap, yang tersisa bukanlah kesedihan, melainkan rasa hangat yang pelan-pelan mengisi dada—sebuah janji bahwa kebaikan tidak akan pernah benar-benar padam, selama masih ada yang mau menyalakan.

Penulis : Rini Febriani Hauri
Editor : Rini Febriani Hauri

 


7331x
Dibaca

Berita Lainnya:

  1. Gelar Festival Teater Musikal, Kepala MTs N 3 Kota Jambi: Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Luar Kelas 8431x dibaca
  2. Kepala MTs Negeri 3 Kota Jambi mengadakan rapat persiapan ARD. 801x dibaca
  3. Heboh dan Meriah! MTsN 3 Kota Jambi Peringati HUT RI ke-80 dengan Lomba Kreatif dan Edukatif 6416x dibaca
  4. Gerakan Pramuka MTs N 3 Kota Jambi meraih 9 Piala di GC-G ke V se Provinsi Jambi Tahun 2019 634x dibaca
  5. Tim Bola Voli Putri MTs Negeri 3 Kota Jambi melaju ke babak kedua Turnamen HAB Tahun 2019 597x dibaca

Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Lokasi MTsN 3 Kota Jambi

Mars Madrasah